![]() |
| Foto: Konten edukator sekaligus artis cilik asal Kalimantan Tengah, Sydney Kaila Safia. |
Palangka Raya, Hatantiringnews.com – Konten edukator sekaligus artis cilik asal Kalimantan Tengah, Sydney Kaila Safia, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Ajakan tersebut disampaikan Sydney menyusul kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Setiap pagi saya membuka jendela, yang masuk bukan udara segar, tapi bau asap. Saya melihat banyak anak sekolah batuk-batuk, lansia sesak. Hati saya sakit, karena mereka tidak salah apa-apa,” ujar Sydney, Jumat (17/10/2026).
Melalui platform edukasinya, Sydney membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan asap. Ia mengingatkan warga agar menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus saat harus beraktivitas di luar ruangan, membatasi kegiatan di luar rumah, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Ia juga meminta masyarakat memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan dengan mengurangi paparan asap semaksimal mungkin. Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan lain setelah terpapar kabut asap diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain menyoroti perlindungan kesehatan, Sydney menegaskan bahwa upaya mengatasi karhutla harus disertai perubahan perilaku masyarakat, khususnya dengan tidak membuka lahan menggunakan cara membakar.
“Asap ini bukan takdir, ini akibat ulah kita. Satu api kecil yang disulut karena malas, dampaknya ribuan paru-paru yang terluka. Kalteng ini rumah kita, rumah harusnya jadi tempat paling aman untuk bernapas,” tegasnya.
Sydney berharap masyarakat tidak hanya berfokus pada dampak kabut asap, tetapi juga ikut mencegah terjadinya kebakaran dengan menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api.
Ia menilai kerja sama antara pemerintah, petugas penanganan karhutla, dan masyarakat diperlukan untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi kesehatan warga selama kualitas udara belum membaik.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan penanganan karhutla, serta memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami gangguan akibat paparan asap. (Redaksi)
