PJJ Jadi Momentum Sekolah di Kalteng Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Karhutla

Foto: Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng, Muhammad Reza Prabowo, berfoto bersama sejumlah Kepala Sekolah. (Media Disdik Kalteng) 

Buntok, Hatantiringnews.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menuntut perlindungan terhadap murid dari paparan kabut asap, tetapi juga kesiapan sekolah dalam menjaga keamanan lingkungan. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah meminta satuan pendidikan memanfaatkan masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk mengantisipasi potensi kebakaran di sekitar area sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo mengatakan, semak belukar, pepohonan kering, dan kondisi tanah yang tandus dapat meningkatkan kerawanan kebakaran. Jika tidak dibersihkan dan diantisipasi, api berpotensi merembet hingga ke bangunan sekolah.

Pesan tersebut disampaikan Reza saat bertemu Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Buntok, seusai mengikuti agenda pembagian bantuan pangan kepada masyarakat di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Senin (21/9/2026).

“Saat PJJ seperti ini, tolong semak belukar di sekitar sekolah dibersihkan. Kalau sekolah ada semak belukar, pepohonan yang kekeringan, tanahnya kering, itu rawan sekali terbakar atau api merembet ke daerah itu sehingga menjalar ke sekolah,” tegasnya.

Menurut Reza, masa PJJ bukan berarti sekolah dapat mengabaikan kesiapan lingkungan maupun keberlangsungan pendidikan. Sekolah tetap perlu melakukan langkah pencegahan karhutla sekaligus memastikan murid tidak kehilangan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran.

Ia mengakui, penerapan PJJ di tengah kabut asap menempatkan sekolah pada situasi yang tidak mudah. Keselamatan murid harus diutamakan, tetapi pembelajaran yang berlangsung terlalu lama tanpa strategi yang tepat juga berisiko menimbulkan penurunan capaian belajar atau learning loss.

Reza mencontohkan kendala yang terjadi dalam pembelajaran melalui Kelas Digital Huma Betang. Dari 36 murid yang seharusnya mengikuti pembelajaran, hanya enam orang yang hadir, sedangkan 30 lainnya terkendala jaringan internet.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketertinggalan materi dapat berdampak pada kemampuan literasi dan numerasi murid. Karena itu, sekolah perlu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi jaringan dan akses pendidikan di wilayah masing-masing.

Reza menegaskan, perlindungan terhadap warga sekolah dan keberlangsungan proses belajar harus berjalan beriringan. Melalui langkah pencegahan karhutla dan pengelolaan PJJ yang tepat, sekolah diharapkan tetap aman sekaligus mampu menjaga hak murid untuk memperoleh pendidikan. (Rif) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama