Ketimpangan Pengeluaran di Kalteng Terjaga Rendah, Gini Ratio Turun pada Maret 2026

Foto: Suasana rilis berita resmi statistik yang digelar oleh BPS Provinsi Kalteng, Rabu (5/8/2026).

Palangka Raya, Hatantiringnews.com — Tingkat ketimpangan pengeluaran masyarakat di Provinsi Kalimantan Tengah terus menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat gini ratio pada Maret 2026 berada di angka 0,278 atau turun dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,284.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan penurunan tersebut menunjukkan distribusi pengeluaran masyarakat di Kalimantan Tengah semakin merata, Rabu (5/8/2026), saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Ruang Vicon BPS Provinsi Kalimantan Tengah.

"Gini ratio Kalimantan Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,278, turun dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,284. Kondisi ini menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk masih berada pada kategori rendah," ujarnya.

Ia menjelaskan, gini ratio merupakan indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran atau pendapatan di suatu wilayah. Nilainya berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 0 berarti distribusi pengeluaran semakin merata, sedangkan semakin mendekati angka 1 menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi.

BPS juga mencatat gini ratio di wilayah perkotaan pada Maret 2026 sebesar 0,299, turun dari 0,311 pada September 2025. Sementara di wilayah perdesaan tercatat 0,257, sedikit meningkat dibandingkan 0,256 pada September 2025.

Meski demikian, baik wilayah perkotaan maupun perdesaan masih berada pada kategori ketimpangan yang rendah.

Selain menggunakan gini ratio, BPS juga mengacu pada ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan indikator tersebut, kelompok 40 persen penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah di Kalimantan Tengah menguasai 22,95 persen total pengeluaran masyarakat.

Jika dirinci, porsi pengeluaran kelompok tersebut mencapai 21,59 persen di wilayah perkotaan dan 24,21 persen di wilayah perdesaan.

Menurut Toto, berdasarkan kedua indikator tersebut, tingkat ketimpangan pengeluaran di Kalimantan Tengah masih tergolong rendah. Kondisi ini menunjukkan pemerataan pengeluaran masyarakat di provinsi tersebut relatif terjaga dibandingkan berbagai wilayah lainnya.

Ia berharap capaian tersebut dapat terus dipertahankan melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan.

Sebagai informasi bahwa Gini ratio merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran atau pendapatan masyarakat di suatu wilayah. Nilainya berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin mendekati angka 0 berarti distribusi pengeluaran masyarakat semakin merata, sedangkan semakin mendekati angka 1 menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. 

Indikator ini digunakan pemerintah dan para pengambil kebijakan untuk memantau tingkat pemerataan kesejahteraan masyarakat, serta menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. (red) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama