Sumber Air Mengering, Pemprov Kalteng Perkuat Penanganan Karhutla dengan Penambahan Sumur Bor

Foto: Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng, H. Agustan Saining. 

Palangka Raya, Hatantiringnews.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) akan memperbanyak pembangunan sumur bor sebagai salah satu upaya memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang rawan mengalami kesulitan sumber air.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, H. Agustan Saining, mengatakan keberadaan sumur bor sangat membantu petugas maupun relawan dalam melakukan pemadaman karhutla di lapangan. 

Hal itu disampaikannya pada Kamis (20/8/2026).
Menurut Agustan, pemadaman karhutla merupakan pekerjaan berisiko tinggi karena petugas harus berhadapan langsung dengan kondisi lapangan yang sulit, termasuk keterbatasan sumber air akibat sejumlah embung atau sumber air lainnya mengalami kekeringan.

"Memadamkan ini luar biasa, bertaruh nyawa. Karena di lapangan kesulitan air, embung-embung juga rata-rata kering, makanya kita bangun sumur bor," ujarnya.
Ia mengungkapkan, secara swadaya pihaknya telah membangun sekitar 10 sumur bor di sejumlah wilayah untuk mendukung kebutuhan pemadaman karhutla. Sumur bor tersebut antara lain dibangun di wilayah Tumpang Musa, Kota Palangka Raya, Kameluh Baru, hingga Sampit.

Agustan memastikan sumur bor yang telah dibangun tersebut dapat difungsikan untuk mendukung kegiatan pemadaman di lapangan. Pembangunan dilakukan dengan kedalaman sekitar 25 hingga 30 meter, dengan biaya sekitar Rp2,5 juta untuk satu titik.

"Kurang lebih Rp2,5 juta satu sumur bor, dengan kedalaman sekitar 25 sampai 30 meter. Untuk sementara kami menggunakan dana sendiri dulu," katanya.

Ia menjelaskan, sebelumnya pembangunan sumur bor juga telah dilakukan oleh sejumlah instansi, termasuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Namun, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap keberadaan dan kondisi sumur bor tersebut karena BRGM telah dibubarkan.

Menurutnya, data mengenai sumur bor yang pernah dibangun tersebut diperlukan untuk mengetahui mana saja yang masih berfungsi dan mana yang perlu diperbaiki atau dibangun kembali.

"Data-datanya masih kami minta dari kawan-kawan eks-BRGM. Nanti kami update mana yang bisa diperbaiki atau digali ulang," jelasnya.

Agustan memperkirakan terdapat sekitar 3.000 hingga 4.000 sumur bor yang pernah dibangun di berbagai wilayah Kalteng oleh sejumlah pihak, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, BRGM, maupun instansi kehutanan. Namun, kondisi seluruh sumur bor tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.

Ia mengatakan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi sumur bor akan menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi karhutla.

"Kalau totalnya mungkin berkisar 3.000 sampai 4.000 sumur bor yang sudah dibangun. Tapi sampai saat ini kami belum melakukan pengecekan mana yang operasional dan mana yang belum," ungkapnya.

Selain memperkuat sarana berupa sumur bor, Pemprov Kalteng juga akan mengevaluasi ketersediaan sumber air dan peralatan pendukung penanganan karhutla. Agustan menyebut pembangunan embung di wilayah yang rawan kebakaran juga menjadi perhatian untuk persiapan menghadapi musim kemarau berikutnya.

Ia mengatakan langkah tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Kalteng agar jumlah sumur bor diperbanyak, sekaligus membangun embung di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi.

"Untuk tahun berikutnya, dari sisi peralatan dan ketersediaan air, sumur bor sangat diperlukan. Arahan Pak Gubernur memang diperbanyak sumur bornya, kemudian embung-embung di wilayah yang rawan kebakaran," pungkasnya.

Sementara terkait operasi modifikasi cuaca (OMC), Agustan menyebut pelaksanaannya masih bergantung pada keberadaan awan aktif yang memenuhi syarat. OMC sempat dilakukan selama dua hari, namun kondisi awan yang tersedia belum cukup mendukung sehingga hasilnya belum terlihat signifikan.

Ia berharap kondisi cuaca segera berubah dan hujan turun di sejumlah wilayah Kalteng sehingga dapat membantu mengurangi risiko serta intensitas karhutla. (red) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama